Minggu, 24 Juli 2011

VSWR

VSWR merupakan singkatan dari Voltage Standing Wave Ratio yang merupakan salah satu parameter penting di dalam saluran transmisi. Nilai VSWR yang ideal adalah 1:1, yang mempunyai maksud semua energi RF yang dibangkitkan dari sumber, semuanya akan tersalur ke antena.
Untuk menghitung koefisien VSWR, maka dapat digunakan rumus:


dimana ρ merupakan besaran koefisien Γ, yang selalu mempunyai nilai rentang [0,1], nilai VSWR selalu ≥ +1.

Bila terbaca nilai VSWR adalah 2:1, ini menunjukkan nilai daya pantulan energi RF yang besar ke arah sumber atau peralatan, misalnya radio. Ini berarti energi RF yang dibangkit, tidak seluruhnya menuju antena, tapi berbalik ke perangkat sumber. Nilai yang besar seperti contoh ini dapat menyebabkan peralatan akan rusak.

VSWR

VSWR merupakan singkatan dari Voltage Standing Wave Ratio yang merupakan salah satu parameter penting di dalam saluran transmisi. Nilai VSWR yang ideal adalah 1:1, yang mempunyai maksud semua energi RF yang dibangkitkan dari sumber, semuanya akan tersalur ke antena.
Untuk menghitung koefisien VSWR, maka dapat digunakan rumus:


dimana ρ merupakan besaran koefisien Γ, yang selalu mempunyai nilai rentang [0,1], nilai VSWR selalu ≥ +1.

Bila terbaca nilai VSWR adalah 2:1, ini menunjukkan nilai daya pantulan energi RF yang besar ke arah sumber atau peralatan, misalnya radio. Ini berarti energi RF yang dibangkit, tidak seluruhnya menuju antena, tapi berbalik ke perangkat sumber. Nilai yang besar seperti contoh ini dapat menyebabkan peralatan akan rusak.

3 THREE







INDOSAT

Matrix, Im3, Mentari Coverage

Anda dapat menggunakan kartu Matrix untuk melakukan jelajah komunikasi (Roaming) baik di dalam maupun luar negeri tanpa harus mengubah nomor Matrix Anda.
Roaming Nasional
Anda juga dapat berkomunikasi dengan menggunakan kartu Matrix di seluruh wilayah cakupan jaringan Satelindo di Indonesia. Jelajah komunikasi (Roaming) nasional ini otomatis Anda dapatkan sejak diaktifkannya kartu Matrix Anda.
Roaming Internasional
Anda akan selalu dapat berkomunikasi, menghubungi atau dihubungi pada saat sedang bepergian ke luar negeri. Matrix memungkinkan Anda diterima dan menggunakan hampir seluruh jaringan GSM di 5 (lima) benua pada saat sedang berada di luar negeri. Untuk Amerika Serikat dan Kanada, Anda dapat melakukan roaming pada GSM1900 hanya jika Anda menggunakan telepon genggam yang berkemampuan tri-band.
Roaming Internasional akan diberikan kepada Anda berdasarkan permintaan.
Hubungi Call Center 24 jam di : 021 – 54388888 atau 111 melalui Matrix Anda

Your Im3 and Mentari can be used in all Indosat coverage in Indonesia, comprising 18 local zones:

1. North Sumatra
2. Aceh
3. West Sumatra
4. Riau
5. South Sumatra
6. Lampung
7. West Kalimantan
8. Central & South Kalimantan
9. East Kalimantan
10. South Sulawesi
11. Central & Southeast Sulawesi
12. North Sulawesi & Maluku
13. Papua
14. Greater Jakarta
15. West Java
16. Central Java
17. East Java
18. Bali & Nusa Tenggara


Starone Coverage

StarOne handsets can only be used in the area it is registered to.

StarOne covers 23 cities of Indonesia with service within the area code:

Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi, Bogor, Cibinong, Sentul, Cisarua, Semarang, Salatiga, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Bangkalan, Malang, Batu, Pandaan, Pasuruan, Jombang, Mojokerto, Purwosari, Pekanbaru, Batam, Palembang, Lampung, Padang, Bukittinggi, Aceh, Medan, Balikpapan, Bali, Makassar, Kariango, and Pontianak.


ILCapitano

Addicted  1054 reps 

XL

Base Transceiver Station (BTS)

Secara berkesinambungan kami membangun jaringan BTS untuk memperluas cakupan dan meningkatkan kualitas jaringan. Belanja modal XL pada 2007 adalah sebesar USD 700 juta. Setengah dari belanja modal tersebut digunakan untuk memperluas dan memperkuat cakupan di Pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Sepertiga lainnya untuk membangun jaringan BTS di Pulau Sumatera dan sisanya untuk jaringan di Indonesia bagian Timur. Pada akhir 2007, jangkauan jaringan XL telah mencapai 90% cakupan populasi Indonesia. Sampai akhir tahun 2007, XL telah menyiapkan perluasan jaringan hingga ke Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua. XL juga hadir di kota-kota besar Indonesia bagian timur yang meliputi Ambon, Ternate, Jayapura, Porong, Timika, Merauke dan Kupang. Dengan demikian, jaringan XL akan membentang, sepanjang Indonesia, dari Sabang hingga Merauke.



Sepanjang tahun 2007, XL berhasil menambah 3.897 BTS sehingga XL secara total telah memiliki 11.157 BTS di sepanjang Indonesia, yang tersebar sepanjang Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Pada akhir tahun 2007, ketersediaan Base Station Subsystem XL secara nasional adalah 99%.




Infrastruktur Jaringan

Di tahun 2007, XL dengan sukses memperluas dan meningkatkan jaringan serat optik di beberapa kota besar di Indonesia. Untuk Pulau Jawa dimana terdapat lebih dari 62% pelanggan, XL telah mempunyai jaringan serat optik yang terdiri dari jaringan utama (backbone) dan jaringan penghubung (ring). Serat optik berkapasitas tinggi ini membentang sepanjang jalan kereta api di pulau Jawa, dari Jawa Barat hingga Surabaya dan Pasuruan di Jawa Timur. Sepanjang tahun 2007, kami telah menginstalasi lebih dari 3.000 km jaringan optik sehingga total jaringan serat optik (kabel laut dan darat) adalah lebih dari 9.000 km.



Sementara itu, XL telah membangun kabel bawah laut dengan kapasitas terpasang hingga 10 gigabytes per detik dari Jawa Timur ke Bali, Nusa Tenggara, dan berakhir di Sulawesi Selatan. Perseroan juga memiliki kabel bawah laut yang menghubungkan Sulawesi Tengah dengan Sangatta di Kalimantan. Jaringan kabel bawah laut di Ancol, Jakarta Utara terhubung dengan Batam yang melalui Pulau Bangka dilanjutkan ke kepulauan Riau lalu ke Jambi dan berakhir di Batam. Di Sumatera, XL telah membangun jaringan yang menghubungkan kota-kota besar di sepanjang Sumatera. Jaringan utama di Sumatera akan dihubungkan ke Pulau Jawa melalui kabel bawah laut dari Anyer ke Kalianda yang sedang dalam proses pembangunan.



Sehubungan dengan perluasan jaringan transmisi, XL telah berhasil mengaplikasikan teknologi terbaru dengan membangun jaringan multipleks berkapasitas sangat tinggi (10 Gbps) DWDM Network, MPLS dan NGN Network disamping teknologi TDM konvensional yang sudah ada seperti PDH, SDH dan C-WDM.





Akses ke Jaringan Internasional

Di akhir tahun 2007, XL telah mengoperasikan proyek sistem serat optik bawah laut Batam Rengit Cable System (BRCS), yang menghubungkan Batam dengan Sungai Rengit di Johor, Malaysia. Dengan teknologi tinggi yang dimilikinya, BRCS menawarkan solusi komunikasi melalui jaringan internasional dengan kecepatan tinggi, kapasitas besar, serta tarif yang kompetitif. Selain BRCS, kami juga mempunyai jaringan digital microwave yang menghubungkan Batam dengan Singapura dan Batam dengan Penggarang (Malaysia). Jaringan ini berlaku sebagai rute alternatif untuk menghubungkan jaringan XL di Indonesia dengan jaringan internasional.

Switching

Saat ini XL telah mengimplementasikan teknologi switch terkini yaitu NGN (New Generation Network) yang merupakan perpaduan antara MGW (Media Gateway) dan MSC-S (MSC-Serve). Teknologi berbasis IP ini menggantikan teknologi sebelumnya yang berbasis TDM. Penggunaan teknologi terbaru ini menjamin ketersediaan kapasitas serta peningkatan kualitas jaringan XL.



Dengan kecanggihan yang dimiliki, Perseroan dapat selalu memberikan kualitas terbaik bagi pelanggan. Di akhir tahun 2007, XL Successful Call Rate adalah 95% sedangkan Call Completion Rate adalah 99% dan Blocking Rate dibawah 1%.



Disaster Recovery Center

XL juga telah berhasil membangun gedung khusus network di Bintaro dan sedang dalam perencanaan untuk membangun gedung yang serupa di area Bandung dan Surabaya. Gedung khusus network ini dibangun sebagai bagian rencana strategis jangka panjang XL untuk memperkuat dan mengantisipasi permintaan kapasitas dan sistem DRP (Disaster Recovery Plan).



Sistem Penagihan

Sejak 2003, kami telah menjadi operator pertama di Indonesia yang mengimplementasikan “Convergence Billing System”. Dengan adanya sistem ini, data pelanggan prabayar dan pasca bayar dapat diproses dengan sistem yang sama dan memungkinkan kami untuk lebih fleksibel dalam menciptakan program-program marketing untuk para pelanggan dengan perhitungan tagihan yang akurat sampai dengan detik terakhir.




o 

TELKOMSEL






TELKOMSELFlash NETWORK COVERAGE



HSDPA Coverage

TELKOMSEL telah menggelar HSDPA Coverage di 31 kota besar di Indonesia (dan akan selalu bertambah), dengan HSDPA Coverage pengguna TELKOMSELFlash dapat mengakses internet dengan kecepatan downlink hingga mencapai 3.2 Mbps.



1. JAKARTA PUSAT

2. JAKARTA SELATAN

3. JAKARTA BARAT

4. JAKARTA TIMUR

5. DEPOK

6. BEKASI

7. TANGERANG

8. BOGOR

9. BANDUNG

10. CIREBON

11. SEMARANG

12. TEMANGGUNG

13. SOLO

14. YOGYAKARTA

15. PURWOKERTO

16. SURABAYA

17. MALANG

18. GRESIK

19. SIDOARJO

20. BALI

21. BALIKPAPAN

22. BANDA ACEH

23. MEDAN

24. PELALAWAN

25. PERAWANG

26. BATAM

27. PEKANBARU

28. PALEMBANG

29. MAKASAR





3G/UMTS Coverage

Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Cilegon, Serang, Tangerang Kota, Bekasi, Depok, Bogor, Karawang, Subang, Cikampek, Purwakarta, Bandung, Ciamis, Tasikmalaya, Kuningan, Sumedang, Garut, Cirebon, Boyolali, Brebes, Semarang, Banjarnegara, Kudus, Kebumen, Jepara, Magelang, Majenang, Purbalingga, Tegal, Temanggung, Sragen, Solo, Salatiga, Sukoharjo, Wonosobo, Rembang, Purworejo, Pekalongan, Pemalang, Pati, Cilacap, Purwokerto, Jogjakarta, Banda Aceh, Lhoksumawe, Langsa, Medan, Pematang Siantar, Sibolga, Kisaran, Tanjung Balai Asahan, Pekanbaru, Pelalawan, Perawang, Batam, Tanjung Pinang, Padang, Bukit Tinggi, Jambi, Palembang, Bandar Lampung, Surabaya, Malang, Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Madiun, Lamongan, Mojokerto, Sampang, Nganjuk, Ngawi, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Tuban, Tulung Agung, Sumenep, Denpasar, Mataram, Kupang, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Makassar, Gorontalo

BTS

Menyikap Seluk Beluk BTS
Sempurna tidaknya sinyak yang diperoleh sebuah ponsel sangat tergantung dengan BTS. Namun, seperti apa sebenarnya cara kerja sebuah BTS?
Bila anda sedang berada di kota-kota besar, semacam Jakarta atau Surabaya Jamak terlihat pemandangan sebuah tower menjulang dan dilengkapi dengan perangkat-perangkat berbentuk piringan, atau benda berbentuk kotak. Terkadang, tower-tower semacam ity tegak berdampingan. Benda serupa, kadang bisa dijumpai juga saat anda berkendara ke luar kota.
Tower seperti itu adalah bagian dari sebuah BTS (base transceiver station). Istilah BTS sendiri sebenarnya sudah menjadi istilah umum bagi pelanggan selular. Baik pelanggan GSM maupun CDMA. Sebab memang BTS-lah komponen jaringan GSM yang pertama kali koneksi dengan ponsel anda.
BTS sendiri sebenarnya terdiri dari tiga bagian utama. Yakni, tower, shelter dan feeder. Dari ketiga komponen utama itu, towerlah yang paling jelas terlihat. Di bawah tower, biasanya ada sebuah bangunan yang biasanya berukuran 3 x 3 meter. Inilah yang disebut shelter. Di dalam terdapat berbagai combiner, module per carrier, core module (module ini(, power supply, fan (kipas) pendingin, dan AC / DC converter.
Seluruh perangkat dalam shelter BTS tidak ubahnya seperti rak-rak besi, atau malah lebih mirip lemari pendingin. Rak besi ini disebut juga sebagai BTS equipment (BTSE). Untuk mentenagai perangkat tadi rata-rata diperlukan range antara 500 sampai 1500 watt, tergantung module dan hadrware yang digunakan.
BTS hanyalah salah satu bagian dari seluruh rangkaian proses pengiriman sinyal, yang sebenarnya juga terdiri dari tiga komponen utama. Takni BBS, SSS dan intelligent network. BTS sendiri termasuk dalam komponen BSS (Base Station Subsystem). Selain BTS, dalam BSS juga dikenal BSC (Base Station Controler), dimana dalam alur sistem, beberapa BTS ditangai oleh satu BSC –umumnya satu BSC menangani sekitar 200 BTS.
Adapun komponen SSS (Switching Subsystem), mencakup kombinasi berbagai perangkat seperti MSC (mobile service Switching Center), HLR (Home Location Register), dan VLR (Visitor Location Register). Alur sistem informasi yang terdapat pada komponen BSS, dapat dilihat dalam gambar sistem jaringan GSM.
Alur Sistem BSS
Alur jaringan bisa diilustrasikan sebagai berikut: Pertama terpancar data atau sinyal dari ponsel yang diterima oleh antena (cell), dimana data atau sinyal tersebut dipancarkan lewat udara dalam area converage cell BTS. Kedua data atau sinyal yang diterima antena disampaikan melalui feeder (kabel antena), yang selanjutnya diolah dalam modul-modul hardware dan software BTS. Setelah itu tercipta output data yang diteruskan ke rangkaian luar BTS, yakni BSC. Untuk menghubungkan transmisi antara BTS dan BSC dipergunakan microwave.
“Microwave dipergunakan untuk menggantikan perang fungsi kabel, seperti PCM (Pulse Code Modulation) cable, seperti PCM (Pulse Code Modulation) cable atau fiber opric. Namun baik microwave dan fiber optic memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,� papar Hendarmin, technical instrction ICM Training Center Siemens. Kelebihan microwave ialah infrastruktur yang dibangun lebih murah. Sedang kekurangan microwave kapasitas lebih rendah, kualitas bisa lebih buruk jika terjadi gangguan di udara. Lalu alternatif lain fiber optic, dengan kelebihan kapasitas lebih besar (fisik lebih kecil) ditunjang kualitas data lebih baik.
Kelemahan fiber optic adalah investasinya lebih mahal, sebab memerlukan penggalian tanah atau laut. Excelcom merupakan operator yang mempopulerkan penggunaan fiber optic guna mendukung transmisi, istilah yang dulu dikenal dengan teknologi Connetrix. Selain ity microwave juga dapat dipergunakan untuk mendukung koneksi dari BSC ke TRAU (Transcoder and Rate Adaption Unit), atau dari TRAU ke MSC. Proses alur tadi juga bisa berjalan dari arah sebaliknya. TRAU merupakan jalur penghubung dari BSC ke komponen SSS. Selain sebagai penghubung, TRAU berfungsi untuk mengkompresi traffic channel GSM. Sedang untuk kebutuhan channel GPRS tidak dipergunakan komponen TRAU.
Jenis dan Kelas BTS
Dalam istilah BTS juga dikenal berbagai pembagian kelas. Semisal untuk penempatan BTS, dibagi kedalam kelas indoor dan outdoor. BTS indoor mempunyai spesifikasi desain yang lebih ramping atau simpel, dan relatif lebih awet karena ditempatkan di dalam ruangan. Namun BTS indoor juga memiliki kelemahan pada penempatan ruangan tersendiri yang harus dilengkapi AC (Air Conditioner) sebagai pendingin. Rentang suhu yang dapat diterima komponen BTS antaa -5 hingg 55 derajat celcius. Umumnya perangkat BTS ini yang terdapat di dalam shelter dan mall-mall.
Selain itu terdapat BTS outdoor yang mempunyai spesifikasi tidak memerlukan ruangan khusus. Dapat ditempatkan pada dinding (wall mounted), terowongan, dan pinggir jalan. Sifatnya yang lebih fleksibel, tapi punya kelemahan desain yang lebih besar dan berat. Perbedaan biasanya hanya pada rack, tapi isi module-nya hampir sama dengan BTS indoor.
Menurut Hendarmin, kemampuan BTS juga dipengaruhi kapasitas yang tersedia. Kapasitas dalam hal ini menyangkut daya tampung Trx (Tranceiver) atau frekuensi. Biasanya dalam satu tower BTS terdiri dari 3 cell. Jika 1 cell memiliki 3 Trx, dimana 1 Trx tersebut memiliki 8 time slot. Artinya time slot inilah yang digunakan oleh subscriber atau pelanggan untuk melakukan komunikasi selular. Dari 8 time slot, 1 time slot khusus digunakan untuk signaling yang berfungsi untuk membawa informasi tentang parameter cell. Sisanya tujuh time slot biasa digunakan untuk komunikasi voice dan GPRS. Jadi satu cell yang memiliki tiga Trx (3 x 8 slot) – 1 time slot, artinya terdapat 23 time slot yang bisa digunakan komunikasi oleh 23 pelanggan secara bersamaan. Singkatnya 69 percakapan suara dapat di cover bersamaan oleh 1 tower BTS dengan 3 cell yang ada.
Hubungan Antara Cell dan Converage
Cell dalam BTS mempunyai kaitan erat dengan converage (area layanan). Besar kecilnya cell tentu berpengaruh pada performa jaringan yang diterima oleh pelanggan. Penyediaan cell pun tidak terlepas dari faktor kontur permukaan bumi. Seperti tanah lapang, pegunungan dan daerah gedung bertingkat mempunyai pengaruh tersendiri dalam pemasangan cell BTS. Berikut ini dijelaskan beberapa tipe cell, dan luas converage yang mampu dicakup.
Macro cell – jenis ini yang paling gampang dilihat, sebab ditempatkan di atas gedung tinggi atau tower dengan ketinggian sekitar 50 meter. Ciri macro cell yakni memiliki transmit power yang lebih tinggi, dan converage lebih luas. Umumnya macro cell banyak ditempatkan di daerah pinggiran kota yang mempunyai kepadatan rendah (low traffic) dan sesuai bagi pelanggan yang membutuhkan mobilitas tinggi. Jarak jangkauan bisa berbeda antar operator, tergantung desain yang dibutuhkan. Maksimum macro cell mempunyai jangkauan hingga 35 km, pada realitanya macro cell hanya beroperasi hingga 20 km saja. Ini disebabkan adanya halangan-halangan yang mengganggu penetrasi signal.
Micro cell – jenis ini biasanya ditempatkan di pinggiran jalan atau di sela-sela pojok gedung. Macro cell dirancang bagi komunikasi pelanggan dengan kepadatan tinggi, namun bermobilitas rendah. Ciri micro cell yakni converage nya kecil namun kapasitas besar dengan transmit power yang rendah. Biasanya antenanya cukup dipasang di plafon atau langit-langit suatu ruangan, ada juga tanpa antena alias ditempel pada dinding. Micro cell sendiri dibagi ke dalam micro cell standar, pico cell, dan nano cell. Maksimum micro cell mempunyai jangkauan antara 500 meter hingga 1 km.
dikutip : http://dwikasudrajat.blogspot.com/2009/04/bts.html

BTS

Menyikap Seluk Beluk BTS
Sempurna tidaknya sinyak yang diperoleh sebuah ponsel sangat tergantung dengan BTS. Namun, seperti apa sebenarnya cara kerja sebuah BTS?
Bila anda sedang berada di kota-kota besar, semacam Jakarta atau Surabaya Jamak terlihat pemandangan sebuah tower menjulang dan dilengkapi dengan perangkat-perangkat berbentuk piringan, atau benda berbentuk kotak. Terkadang, tower-tower semacam ity tegak berdampingan. Benda serupa, kadang bisa dijumpai juga saat anda berkendara ke luar kota.
Tower seperti itu adalah bagian dari sebuah BTS (base transceiver station). Istilah BTS sendiri sebenarnya sudah menjadi istilah umum bagi pelanggan selular. Baik pelanggan GSM maupun CDMA. Sebab memang BTS-lah komponen jaringan GSM yang pertama kali koneksi dengan ponsel anda.
BTS sendiri sebenarnya terdiri dari tiga bagian utama. Yakni, tower, shelter dan feeder. Dari ketiga komponen utama itu, towerlah yang paling jelas terlihat. Di bawah tower, biasanya ada sebuah bangunan yang biasanya berukuran 3 x 3 meter. Inilah yang disebut shelter. Di dalam terdapat berbagai combiner, module per carrier, core module (module ini(, power supply, fan (kipas) pendingin, dan AC / DC converter.
Seluruh perangkat dalam shelter BTS tidak ubahnya seperti rak-rak besi, atau malah lebih mirip lemari pendingin. Rak besi ini disebut juga sebagai BTS equipment (BTSE). Untuk mentenagai perangkat tadi rata-rata diperlukan range antara 500 sampai 1500 watt, tergantung module dan hadrware yang digunakan.
BTS hanyalah salah satu bagian dari seluruh rangkaian proses pengiriman sinyal, yang sebenarnya juga terdiri dari tiga komponen utama. Takni BBS, SSS dan intelligent network. BTS sendiri termasuk dalam komponen BSS (Base Station Subsystem). Selain BTS, dalam BSS juga dikenal BSC (Base Station Controler), dimana dalam alur sistem, beberapa BTS ditangai oleh satu BSC –umumnya satu BSC menangani sekitar 200 BTS.
Adapun komponen SSS (Switching Subsystem), mencakup kombinasi berbagai perangkat seperti MSC (mobile service Switching Center), HLR (Home Location Register), dan VLR (Visitor Location Register). Alur sistem informasi yang terdapat pada komponen BSS, dapat dilihat dalam gambar sistem jaringan GSM.
Alur Sistem BSS
Alur jaringan bisa diilustrasikan sebagai berikut: Pertama terpancar data atau sinyal dari ponsel yang diterima oleh antena (cell), dimana data atau sinyal tersebut dipancarkan lewat udara dalam area converage cell BTS. Kedua data atau sinyal yang diterima antena disampaikan melalui feeder (kabel antena), yang selanjutnya diolah dalam modul-modul hardware dan software BTS. Setelah itu tercipta output data yang diteruskan ke rangkaian luar BTS, yakni BSC. Untuk menghubungkan transmisi antara BTS dan BSC dipergunakan microwave.
“Microwave dipergunakan untuk menggantikan perang fungsi kabel, seperti PCM (Pulse Code Modulation) cable, seperti PCM (Pulse Code Modulation) cable atau fiber opric. Namun baik microwave dan fiber optic memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,� papar Hendarmin, technical instrction ICM Training Center Siemens. Kelebihan microwave ialah infrastruktur yang dibangun lebih murah. Sedang kekurangan microwave kapasitas lebih rendah, kualitas bisa lebih buruk jika terjadi gangguan di udara. Lalu alternatif lain fiber optic, dengan kelebihan kapasitas lebih besar (fisik lebih kecil) ditunjang kualitas data lebih baik.
Kelemahan fiber optic adalah investasinya lebih mahal, sebab memerlukan penggalian tanah atau laut. Excelcom merupakan operator yang mempopulerkan penggunaan fiber optic guna mendukung transmisi, istilah yang dulu dikenal dengan teknologi Connetrix. Selain ity microwave juga dapat dipergunakan untuk mendukung koneksi dari BSC ke TRAU (Transcoder and Rate Adaption Unit), atau dari TRAU ke MSC. Proses alur tadi juga bisa berjalan dari arah sebaliknya. TRAU merupakan jalur penghubung dari BSC ke komponen SSS. Selain sebagai penghubung, TRAU berfungsi untuk mengkompresi traffic channel GSM. Sedang untuk kebutuhan channel GPRS tidak dipergunakan komponen TRAU.
Jenis dan Kelas BTS
Dalam istilah BTS juga dikenal berbagai pembagian kelas. Semisal untuk penempatan BTS, dibagi kedalam kelas indoor dan outdoor. BTS indoor mempunyai spesifikasi desain yang lebih ramping atau simpel, dan relatif lebih awet karena ditempatkan di dalam ruangan. Namun BTS indoor juga memiliki kelemahan pada penempatan ruangan tersendiri yang harus dilengkapi AC (Air Conditioner) sebagai pendingin. Rentang suhu yang dapat diterima komponen BTS antaa -5 hingg 55 derajat celcius. Umumnya perangkat BTS ini yang terdapat di dalam shelter dan mall-mall.
Selain itu terdapat BTS outdoor yang mempunyai spesifikasi tidak memerlukan ruangan khusus. Dapat ditempatkan pada dinding (wall mounted), terowongan, dan pinggir jalan. Sifatnya yang lebih fleksibel, tapi punya kelemahan desain yang lebih besar dan berat. Perbedaan biasanya hanya pada rack, tapi isi module-nya hampir sama dengan BTS indoor.
Menurut Hendarmin, kemampuan BTS juga dipengaruhi kapasitas yang tersedia. Kapasitas dalam hal ini menyangkut daya tampung Trx (Tranceiver) atau frekuensi. Biasanya dalam satu tower BTS terdiri dari 3 cell. Jika 1 cell memiliki 3 Trx, dimana 1 Trx tersebut memiliki 8 time slot. Artinya time slot inilah yang digunakan oleh subscriber atau pelanggan untuk melakukan komunikasi selular. Dari 8 time slot, 1 time slot khusus digunakan untuk signaling yang berfungsi untuk membawa informasi tentang parameter cell. Sisanya tujuh time slot biasa digunakan untuk komunikasi voice dan GPRS. Jadi satu cell yang memiliki tiga Trx (3 x 8 slot) – 1 time slot, artinya terdapat 23 time slot yang bisa digunakan komunikasi oleh 23 pelanggan secara bersamaan. Singkatnya 69 percakapan suara dapat di cover bersamaan oleh 1 tower BTS dengan 3 cell yang ada.
Hubungan Antara Cell dan Converage
Cell dalam BTS mempunyai kaitan erat dengan converage (area layanan). Besar kecilnya cell tentu berpengaruh pada performa jaringan yang diterima oleh pelanggan. Penyediaan cell pun tidak terlepas dari faktor kontur permukaan bumi. Seperti tanah lapang, pegunungan dan daerah gedung bertingkat mempunyai pengaruh tersendiri dalam pemasangan cell BTS. Berikut ini dijelaskan beberapa tipe cell, dan luas converage yang mampu dicakup.
Macro cell – jenis ini yang paling gampang dilihat, sebab ditempatkan di atas gedung tinggi atau tower dengan ketinggian sekitar 50 meter. Ciri macro cell yakni memiliki transmit power yang lebih tinggi, dan converage lebih luas. Umumnya macro cell banyak ditempatkan di daerah pinggiran kota yang mempunyai kepadatan rendah (low traffic) dan sesuai bagi pelanggan yang membutuhkan mobilitas tinggi. Jarak jangkauan bisa berbeda antar operator, tergantung desain yang dibutuhkan. Maksimum macro cell mempunyai jangkauan hingga 35 km, pada realitanya macro cell hanya beroperasi hingga 20 km saja. Ini disebabkan adanya halangan-halangan yang mengganggu penetrasi signal.
Micro cell – jenis ini biasanya ditempatkan di pinggiran jalan atau di sela-sela pojok gedung. Macro cell dirancang bagi komunikasi pelanggan dengan kepadatan tinggi, namun bermobilitas rendah. Ciri micro cell yakni converage nya kecil namun kapasitas besar dengan transmit power yang rendah. Biasanya antenanya cukup dipasang di plafon atau langit-langit suatu ruangan, ada juga tanpa antena alias ditempel pada dinding. Micro cell sendiri dibagi ke dalam micro cell standar, pico cell, dan nano cell. Maksimum micro cell mempunyai jangkauan antara 500 meter hingga 1 km.
dikutip : http://dwikasudrajat.blogspot.com/2009/04/bts.html

BTS

Menyikap Seluk Beluk BTS
Sempurna tidaknya sinyak yang diperoleh sebuah ponsel sangat tergantung dengan BTS. Namun, seperti apa sebenarnya cara kerja sebuah BTS?
Bila anda sedang berada di kota-kota besar, semacam Jakarta atau Surabaya Jamak terlihat pemandangan sebuah tower menjulang dan dilengkapi dengan perangkat-perangkat berbentuk piringan, atau benda berbentuk kotak. Terkadang, tower-tower semacam ity tegak berdampingan. Benda serupa, kadang bisa dijumpai juga saat anda berkendara ke luar kota.
Tower seperti itu adalah bagian dari sebuah BTS (base transceiver station). Istilah BTS sendiri sebenarnya sudah menjadi istilah umum bagi pelanggan selular. Baik pelanggan GSM maupun CDMA. Sebab memang BTS-lah komponen jaringan GSM yang pertama kali koneksi dengan ponsel anda.
BTS sendiri sebenarnya terdiri dari tiga bagian utama. Yakni, tower, shelter dan feeder. Dari ketiga komponen utama itu, towerlah yang paling jelas terlihat. Di bawah tower, biasanya ada sebuah bangunan yang biasanya berukuran 3 x 3 meter. Inilah yang disebut shelter. Di dalam terdapat berbagai combiner, module per carrier, core module (module ini(, power supply, fan (kipas) pendingin, dan AC / DC converter.
Seluruh perangkat dalam shelter BTS tidak ubahnya seperti rak-rak besi, atau malah lebih mirip lemari pendingin. Rak besi ini disebut juga sebagai BTS equipment (BTSE). Untuk mentenagai perangkat tadi rata-rata diperlukan range antara 500 sampai 1500 watt, tergantung module dan hadrware yang digunakan.
BTS hanyalah salah satu bagian dari seluruh rangkaian proses pengiriman sinyal, yang sebenarnya juga terdiri dari tiga komponen utama. Takni BBS, SSS dan intelligent network. BTS sendiri termasuk dalam komponen BSS (Base Station Subsystem). Selain BTS, dalam BSS juga dikenal BSC (Base Station Controler), dimana dalam alur sistem, beberapa BTS ditangai oleh satu BSC –umumnya satu BSC menangani sekitar 200 BTS.
Adapun komponen SSS (Switching Subsystem), mencakup kombinasi berbagai perangkat seperti MSC (mobile service Switching Center), HLR (Home Location Register), dan VLR (Visitor Location Register). Alur sistem informasi yang terdapat pada komponen BSS, dapat dilihat dalam gambar sistem jaringan GSM.
Alur Sistem BSS
Alur jaringan bisa diilustrasikan sebagai berikut: Pertama terpancar data atau sinyal dari ponsel yang diterima oleh antena (cell), dimana data atau sinyal tersebut dipancarkan lewat udara dalam area converage cell BTS. Kedua data atau sinyal yang diterima antena disampaikan melalui feeder (kabel antena), yang selanjutnya diolah dalam modul-modul hardware dan software BTS. Setelah itu tercipta output data yang diteruskan ke rangkaian luar BTS, yakni BSC. Untuk menghubungkan transmisi antara BTS dan BSC dipergunakan microwave.
“Microwave dipergunakan untuk menggantikan perang fungsi kabel, seperti PCM (Pulse Code Modulation) cable, seperti PCM (Pulse Code Modulation) cable atau fiber opric. Namun baik microwave dan fiber optic memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,� papar Hendarmin, technical instrction ICM Training Center Siemens. Kelebihan microwave ialah infrastruktur yang dibangun lebih murah. Sedang kekurangan microwave kapasitas lebih rendah, kualitas bisa lebih buruk jika terjadi gangguan di udara. Lalu alternatif lain fiber optic, dengan kelebihan kapasitas lebih besar (fisik lebih kecil) ditunjang kualitas data lebih baik.
Kelemahan fiber optic adalah investasinya lebih mahal, sebab memerlukan penggalian tanah atau laut. Excelcom merupakan operator yang mempopulerkan penggunaan fiber optic guna mendukung transmisi, istilah yang dulu dikenal dengan teknologi Connetrix. Selain ity microwave juga dapat dipergunakan untuk mendukung koneksi dari BSC ke TRAU (Transcoder and Rate Adaption Unit), atau dari TRAU ke MSC. Proses alur tadi juga bisa berjalan dari arah sebaliknya. TRAU merupakan jalur penghubung dari BSC ke komponen SSS. Selain sebagai penghubung, TRAU berfungsi untuk mengkompresi traffic channel GSM. Sedang untuk kebutuhan channel GPRS tidak dipergunakan komponen TRAU.
Jenis dan Kelas BTS
Dalam istilah BTS juga dikenal berbagai pembagian kelas. Semisal untuk penempatan BTS, dibagi kedalam kelas indoor dan outdoor. BTS indoor mempunyai spesifikasi desain yang lebih ramping atau simpel, dan relatif lebih awet karena ditempatkan di dalam ruangan. Namun BTS indoor juga memiliki kelemahan pada penempatan ruangan tersendiri yang harus dilengkapi AC (Air Conditioner) sebagai pendingin. Rentang suhu yang dapat diterima komponen BTS antaa -5 hingg 55 derajat celcius. Umumnya perangkat BTS ini yang terdapat di dalam shelter dan mall-mall.
Selain itu terdapat BTS outdoor yang mempunyai spesifikasi tidak memerlukan ruangan khusus. Dapat ditempatkan pada dinding (wall mounted), terowongan, dan pinggir jalan. Sifatnya yang lebih fleksibel, tapi punya kelemahan desain yang lebih besar dan berat. Perbedaan biasanya hanya pada rack, tapi isi module-nya hampir sama dengan BTS indoor.
Menurut Hendarmin, kemampuan BTS juga dipengaruhi kapasitas yang tersedia. Kapasitas dalam hal ini menyangkut daya tampung Trx (Tranceiver) atau frekuensi. Biasanya dalam satu tower BTS terdiri dari 3 cell. Jika 1 cell memiliki 3 Trx, dimana 1 Trx tersebut memiliki 8 time slot. Artinya time slot inilah yang digunakan oleh subscriber atau pelanggan untuk melakukan komunikasi selular. Dari 8 time slot, 1 time slot khusus digunakan untuk signaling yang berfungsi untuk membawa informasi tentang parameter cell. Sisanya tujuh time slot biasa digunakan untuk komunikasi voice dan GPRS. Jadi satu cell yang memiliki tiga Trx (3 x 8 slot) – 1 time slot, artinya terdapat 23 time slot yang bisa digunakan komunikasi oleh 23 pelanggan secara bersamaan. Singkatnya 69 percakapan suara dapat di cover bersamaan oleh 1 tower BTS dengan 3 cell yang ada.
Hubungan Antara Cell dan Converage
Cell dalam BTS mempunyai kaitan erat dengan converage (area layanan). Besar kecilnya cell tentu berpengaruh pada performa jaringan yang diterima oleh pelanggan. Penyediaan cell pun tidak terlepas dari faktor kontur permukaan bumi. Seperti tanah lapang, pegunungan dan daerah gedung bertingkat mempunyai pengaruh tersendiri dalam pemasangan cell BTS. Berikut ini dijelaskan beberapa tipe cell, dan luas converage yang mampu dicakup.
Macro cell – jenis ini yang paling gampang dilihat, sebab ditempatkan di atas gedung tinggi atau tower dengan ketinggian sekitar 50 meter. Ciri macro cell yakni memiliki transmit power yang lebih tinggi, dan converage lebih luas. Umumnya macro cell banyak ditempatkan di daerah pinggiran kota yang mempunyai kepadatan rendah (low traffic) dan sesuai bagi pelanggan yang membutuhkan mobilitas tinggi. Jarak jangkauan bisa berbeda antar operator, tergantung desain yang dibutuhkan. Maksimum macro cell mempunyai jangkauan hingga 35 km, pada realitanya macro cell hanya beroperasi hingga 20 km saja. Ini disebabkan adanya halangan-halangan yang mengganggu penetrasi signal.
Micro cell – jenis ini biasanya ditempatkan di pinggiran jalan atau di sela-sela pojok gedung. Macro cell dirancang bagi komunikasi pelanggan dengan kepadatan tinggi, namun bermobilitas rendah. Ciri micro cell yakni converage nya kecil namun kapasitas besar dengan transmit power yang rendah. Biasanya antenanya cukup dipasang di plafon atau langit-langit suatu ruangan, ada juga tanpa antena alias ditempel pada dinding. Micro cell sendiri dibagi ke dalam micro cell standar, pico cell, dan nano cell. Maksimum micro cell mempunyai jangkauan antara 500 meter hingga 1 km.
dikutip : http://dwikasudrajat.blogspot.com/2009/04/bts.html

Tren Mendatang, BTS Makin Ringkas dan Hemat



Pekerja memasang alat Remote Radio Unit (RRU) pada menara Base Transmitter System (BTS).

TERKAIT :

Tri Resmi Operasikan BTS Hidrogen Terbesar di ASEAN

Tren Mendatang, BTS Makin Ringkas dan Hemat


REPUBLIKA.CO.ID, SHENSHEN - Menara BTS tak perlu lagi lahan yang luas dan piranti yang rumit. Melalui teknologi terkini - antara lain dikembangkan Huawei melalui singleRAN - BTS hanya perlu ruang kurang dari separuh ukuran saat ini.

"Teknologi terbaru, tak hanya lahan yang dihemat, tapi juga energi dan biaya," kata Dani K Ristandi, deputy director Costumer Solution & Sales Support Division PT Huawei Tech Investment, seperti dilaporkan wartawan Republika.co.id,Siwi Tri Puji B, dari Shenzen, Cina.

Dengan singleRAN, baik teknologi 2G, 3G, dan LTE bisa diintergrasikan dalam satu BTS. "Jadi bisa meringkas jumlah BTS juga," katanya. Teknologi ini, kata Dani, sudah dikembangkan sejak dua tahun lalu dan sudah diadopsi oleh sedikitnya 86 operator seluler di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Terkomsel, misalnya, mulai menerapkannya sejak beberapa waktu lalu. Bahkan, di beberapa BTS, misalnya di Bekasi, hanya menara saja yang terpasang, sedang baseband unit bisa disentralisasi di satu lokasi. "Ditarik melalui jaringan serat optik di kantor Buaran/Simatupang," kata Pratignyo A Budiman, GM Strategic Technology Planning Telkomsel.

Bahkan ke depan, BTS operator terbesar di Indonesia ini tak hanya akan dibuat ringkas tapi juga ramah lingkungan. Salah satu caranya adalah dengan pengaplikasikan teknologi panel surya dan mikrohidro untuk mensuplai tenaga listrik di BTS yang dikelolanya.

"Saat ini sudah ada sebanyak 250 BTS yang suplai dayanya menggunakan tenaga surya tersebut," katanya. BTS tenaga surya ini antara lain berada di Pulau Karimun, Kencana, dan Serawai. Menurutnya, hingga akhir 2011, 300 BTS dipastikan menggunakan panel surya untuk suplai energinya.

Selain itu, beberapa BTS baru yang dikembangkan juga dilengkapi pembangkit listrik mini mikrohidro. "Bahkan, selain digunakan untuk suplai tenaga BTS juga dimanfaatkan untuk penerangan warga sekitarnya," katanya.

Telkomsel juga melakukan terobosan berupa towerless, yaitu BTS tanpa tower. Antena dan modul kecil RRU dipasang di tempat tersembunyi, misalnya menyatu dengan tiang listrik atau menempel di papan reklame, sedang BTS-nya disentralisasi di satu tempat. "Kita menerapkan antara lain di Bali," tambahnya.
Redaktur: Johar Arif

Axis Tambah 9.000 BTS Baru


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Operator telekomunikasi Axis berencana akan menambah 9000 Base Transceiver Station (BTS) di seluruh Indonesia. Pembangunan BTS ini menggunakan pembiayaan dari Saudi Telecom yang telah diterima Axis bulan Mei tahun ini.
Hal ini disampaikan Anita Avianty, Head of Marketing Communication Axis di sela-sela presentasi Uji Jaringan Axis. "Kami memperoleh dana USD 1, 2 miliar yang akan kami gunakan untuk pembangunan 9000 BTS, juga ekspansi mobile broadband dalam waktu lima tahun ke depan," ujar Anita di Hotel Novotel, Yogyakarta, Jumat (15/7/2011) lalu.
Selain itu, Axis juga akan mengalokasikan 3,2 juta dollar AS untuk pembelian baterai BTS. "Untuk daerah-daerah yang mengalami ketidakstabilan aliran listrik dari PLN, kami mengantisipasinya dengan membeli baterai BTS dan disiagakan di BTS-BTS yang membutuhkan. Kami juga membedakan baterai BTS untuk Jawa dan Sumatera, karena spesifikasi baterai BTS untuk Sumatera berbeda sehingga harganya juga lebih mahal," jelas Anita.
Anita juga mengungkapkan adanya laporan pencurian peralatan BTS Axis yang menyebabkan gangguan komunikasi yang signifikan. "Setiap hari kami menerima laporan pencurian. Untuk mengantisipasinya, sekarang kami memperketat sistem keamanan di BTS-BTS dengan Network Monitoring System (NMS)," ungkapnya.
Marc Proulx, General Manager Technology Operation Axis menambahkan, tiga komponen penting yang paling sering dicuri adalah feeding cable, grounding cable, dan baterai. "Tiga komponen itu sangat penting bagi BTS. Kami sudah mempersiapkan infrstruktur yang baik bagi pelanggan, namun karena ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab melakukan pencurian itu, maka pelayanan kami kepada pelanggan juga terganggu," ungkap Marc.
Hingga periode 30 Juni 2011, sepanjang Jabodetabek hingga Jawa Timur, Axis telah memiliki BTS 2G sebanyak 3550 dan BTS 3G sebanyak 1100. Jumlah ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2010 di mana Axis memiliki BTS 2G sebanyak 3300 dan BTS 3G sebanyak 950. Selama tiga tahun ke depan, jumlah BTS ini akan bertambah 9000 BTS dari pembiayaan yang telah disebutkan Anita.
"Jumlah BTS ini belum termasuk BTS-BTS yang sharing dengan XL. Kalau ditambahkan dengan BTS-BTS itu, jumlahnya lebih banyak," tutup Anita.

Axis Tambah 9.000 BTS Baru


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Operator telekomunikasi Axis berencana akan menambah 9000 Base Transceiver Station (BTS) di seluruh Indonesia. Pembangunan BTS ini menggunakan pembiayaan dari Saudi Telecom yang telah diterima Axis bulan Mei tahun ini.
Hal ini disampaikan Anita Avianty, Head of Marketing Communication Axis di sela-sela presentasi Uji Jaringan Axis. "Kami memperoleh dana USD 1, 2 miliar yang akan kami gunakan untuk pembangunan 9000 BTS, juga ekspansi mobile broadband dalam waktu lima tahun ke depan," ujar Anita di Hotel Novotel, Yogyakarta, Jumat (15/7/2011) lalu.
Selain itu, Axis juga akan mengalokasikan 3,2 juta dollar AS untuk pembelian baterai BTS. "Untuk daerah-daerah yang mengalami ketidakstabilan aliran listrik dari PLN, kami mengantisipasinya dengan membeli baterai BTS dan disiagakan di BTS-BTS yang membutuhkan. Kami juga membedakan baterai BTS untuk Jawa dan Sumatera, karena spesifikasi baterai BTS untuk Sumatera berbeda sehingga harganya juga lebih mahal," jelas Anita.
Anita juga mengungkapkan adanya laporan pencurian peralatan BTS Axis yang menyebabkan gangguan komunikasi yang signifikan. "Setiap hari kami menerima laporan pencurian. Untuk mengantisipasinya, sekarang kami memperketat sistem keamanan di BTS-BTS dengan Network Monitoring System (NMS)," ungkapnya.
Marc Proulx, General Manager Technology Operation Axis menambahkan, tiga komponen penting yang paling sering dicuri adalah feeding cable, grounding cable, dan baterai. "Tiga komponen itu sangat penting bagi BTS. Kami sudah mempersiapkan infrstruktur yang baik bagi pelanggan, namun karena ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab melakukan pencurian itu, maka pelayanan kami kepada pelanggan juga terganggu," ungkap Marc.
Hingga periode 30 Juni 2011, sepanjang Jabodetabek hingga Jawa Timur, Axis telah memiliki BTS 2G sebanyak 3550 dan BTS 3G sebanyak 1100. Jumlah ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2010 di mana Axis memiliki BTS 2G sebanyak 3300 dan BTS 3G sebanyak 950. Selama tiga tahun ke depan, jumlah BTS ini akan bertambah 9000 BTS dari pembiayaan yang telah disebutkan Anita.
"Jumlah BTS ini belum termasuk BTS-BTS yang sharing dengan XL. Kalau ditambahkan dengan BTS-BTS itu, jumlahnya lebih banyak," tutup Anita.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More